Penyakit Hasad dan Pengaruhnya Terhadap Ukhuwah Islamiyah
Tanggal : 20-04-2008
Buka Bersama Komunitas IMB
Tanggal : 06-10-2007
undangan untuk lulusan ISTA
Tanggal : 08-09-2007
Site Tracking By. Google Analitycs
Kebenaran itu datangnya dari Allah, semoga kita tidak menjadi orang-orang yang ragu. Amrozi seorang manusia sama seperti anda-anda sekalian, namun dia mempunyai pemikiran dan cara pandang yang berbeda, terlepas gelar yang disematkan sebagai teroris atau apalah namanya, beberapa pesan yang dia sampaikan tidak semua salah.
Ada kebenaran yang harus kita terima dan renungi, karena walau secara hakikat terucap dari mulut amrozi tapi syariatnya itu adalah datang dari Allah. Salah satunya bahwa tanpa terasa kehidupan muslim sekarang ini perlahan sudah bergeser menjadi cinta dunia, futur, fasik bahkan tidak sedikit yang munafik (wallohualam mungkin termasuk saya)
Sesungguhnya harus kita akui doktrin pencucian otak untuk melegalkan segala bentuk penjajahan model baru dari Israel, Inggris dan Amerika berhasil dengan sempurna. bahkan sebagai seorang muslim yang tidak mengetahui permasalahan awalnya pun ikut terpengaruh cara pandang kafir laknatullah. Amrozi bukan seorang Rasul yang tidak pernah salah, dia hanya seorang muslim yang sakit hati melihat saudaranya dibantai secar massal di hampir seluruh penjuru dunia. Dia seorang yang tidak ingin tinggal diam melihat ketidakadilan tersebut.
Tindakan bom bunuh diri bukanlah jalan yang benar dan dibenarkan oleh Al quran, dan tidak pula dicontohkan oleh Rasulullah SAW, tapi berdiam diri dan bekerjasama dengan kamu kafir untuk menghancurkan Islam, itu lebih dilaknat oleh Allah dan rasulNya. Cerita kehidupan amrozi, Imam Samudera, dan Ali Ghufron telah selesai terlepas dari title mereka seorang "teroris" selama mereka tidak murtad wajib hukumnya untuk kita memperlakukan mereka sebagai seorang muslim.
Mengambil hikmah dari setiap peristiwa adalah cara terbaik seorang muslim dalam mensikapi dan menjalani kehidupan, dan tetap berpegang pada Al Quran dan sunnah. Seharusnya peristiwa tersebut membuka mata kita, jika kita bisa memberi titel "Teroris" pada Amrozi, lalu pernahkah kita terfikir titel kita sendiri apa ? Mukmin ? Muslim ? Muslim abu-abu ? fasik ? munafik ? kafir ? kenapa kita direpotkan memilih titel yang pantas untuk orang lain sedangkan kita tidak pernah merenungi titel diri kita sendiri di mata Allah.
